Dini Hari di Moncongloe - Wawan Kurniawan

@kontributor 11/21/2021
Dini Hari di Moncongloe
Wawan Kurniawan


“Mereka bilang… lambang itu ada di paha kananmu?” Sarina tak tahu siapa yang dia maksud dengan mereka. “Dasar perempuan sialan!”

Tak ingin mengatakan apa-apa, Sarina menutup mulutnya rapat-rapat. Tapi tamparan sebanyak enam kali di tempat yang sama membuat tulang pipi kanannya serasa ingin lepas sehingga pilihan yang dia punya hanyalah membiarkan mulutnya sedikit menganga. 
Di tengah ketidakberdayaannya itu, dia tak tahu harus berbuat apa selain menutup mata, merasakan darah yang jatuh dari pelipis kanannya. Sarina membayangkan wajah orang-orang yang telah melindunginya. Dia merasa hidup seperti sekarang tak jauh lebih baik dibanding kematian itu sendiri. Ikatan di tangan dan kakinya begitu erat bahkan sedikit pun Sarina mencoba bergerak, sakit di pergelangan kaki maupun tangannya semakin terasa.
Perutnya terasa sakit. Sarina melihat perutnya sembari mengingat suaminya, pamannya, dan kehidupan serta harapan yang sama sekali tak terpikirkan akan membawanya pada situasi seperti ini.
***

Pamannya, Sumarno, sejak minggu lalu memperingatkan Sarina dan suaminya untuk segera menjauh dari kampung. Sarina hanya menganggap itu sekadar basa-basi. Namun, Sarina paham dengan kebiasaan pamannya yang meramal atau percaya dengan mimpi yang dia anggap sebagai wangsit dari leluhurnya. 

Beberapa kali Sumarno membuktikan kesaktiannya pada orang-orang di sekitarnya. Kesaktian itu datang padanya setelah dia mengalami demam tinggi saat usianya delapan belas tahun. Demam itu amat berkepanjangan hingga ibunya mengira Sumarno tak akan bertahan . 

Tapi saat malam purnama tiba dengan bulan yang tampak lebih besar dari biasanya, Sumarno yang lama terbaring lemah tiba-tiba bangkit dengan suhu tubuh normal. Dia memandangi dinding kamar, cermin, ibu yang tertidur di sisi ranjang, dan, dari sela jendela, cahaya bulan yang begitu indah.

“Ibu… Ibu, aku melihat leluhurku datang menemani!”
Ibunya tak paham sama sekali dengan apa yang disampaikan anaknya. Diselimuti kegembiraan, ibunya hanya memilih memeluk Sumarno. Setelah itu, dia tak pernah lagi bercerita tentang leluhurnya. Hingga suatu waktu, tetangga Sumarno bernama Mamat juga mengalami demam tinggi. 

Saat ibu Sumarno datang menjenguk tetangganya itu, Sumarno diminta untuk menemaninya. Di rumah Mamat, Sumarno melihat sosok lelaki tua dengan rambut putih panjang sebahu, janggut dan kumis yang juga berwarna putih seutuhnya. Lelaki tua itu juga mengenakan jubah panjang berwarna putih. 

“Ibu, aku melihat leluhurku di dekat jendela,” 
“Heh, jangan mengigau sembarangan,” sahut Ibu si Mamat yang duduk di samping ranjang anaknya. Sumarno seketika diam. 

Teringat Sumarno juga mengatakan hal yang sama saat dia sembuh, Ibunya berkata, “ Kalau leluhurmu bisa menolong, suruh dia untuk tolong si Mamat!”

Belum sempat Sumarno menyampaikan keinginan itu pada leluhurnya, dia langsung memberikan isyarat agar Sumarno mendekat lalu menyentuh telapak kaki si Mamat. Maka, terjadilah keajaiban yang membuat ibu si Mamat terus bercerita tentang kesaktian Sumarno. Setiap kali ada orang sakit, Sumarno kerap mendapat panggilan khusus untuk mengobati. Orang-orang lebih memilih ke Sumarno daripada ke rumah sakit. 

Lama kelamaan, Sumarno jenuh dengan pekerjaannya. Dia mulai meramal dirinya sendiri. Sebuah kemampuan lain yang sebenarnya dirinya sendiri tak percayai. Namun, leluhurnya dalam wujud lelaki tua itu terus datang meyakinkannya. Sejak saat itulah, setelah menemukan titik terang dalam proses ramalannya itu, dia memilih mengambil keputusan untuk benar-benar mengikuti ramalan yang didapatkan dari leluhurnya. 

Sumarno pergi dari kampungnya dengan beberapa orang untuk mencari peruntungan. Keluarga Sarina, ayah dan ibunya juga ikut dalam perjalanan itu. Orang-orang yang ikut dengannya percaya bahwa keputusan ini karena perintah dari leluhur Sumarno. Akhirnya, mereka tiba di Bone. Di tempat inilah, Sumarno merasa leluhurnya berasal. Kehidupan Sumarno memang terbukti lebih baik dari sebelumnya. Dia mendapat kepercayaan untuk mengelola beberapa organisasi dan membuka usaha yang hari ke hari kian berkembang. 
Dua hari setelah Sumarno memperingatkan Sarina untuk pergi dari kampung, beberapa orang tak dikenal bersembunyi di bawah kolong rumah panggungnya. 

Saat itu, Sumarno berbaring di ruang tengah yang hanya beralaskan tikar. Dari bawah, orang-orang tak dikenal itu menusuk punggung Sumarno dengan badik tipis melalui celah papan. Teriakan Sumarno terdengar, mereka kemudian menjarah rumah Sumarno dan mengambil barang-barang berharga yang ada. Mayat Sumarno dibawa keluar dari rumah dan dipotong beberapa bagian. Lengan kanan, kepala, paha kiri, dibuang ke sungai. Sisa tubuh Sumarno dibiarkan tetap tergeletak di ruang tengah. Sarina dan Kasman membatu saat melihat mayat Sumarno yang tragis. 

18.30   
Kasman baru saja mengemas beberapa pakaian yang akan dibawa pergi. Sarina baru saja menyiapkan makan malam sebelum mereka pergi ke rumah saudara Kasman di Soppeng. Jarak dari Bone ke Soppeng ditempuh kira-kira sekitar tiga jam perjalanan mobil. Sembari menunggu seorang temannya yang akan datang menjemput, Kasman mengeluarkan kotak rokok dan menyelipkan sebatang ke bibir keringnya. 

“Sarina, bila besok kita sampai di Soppeng, kuingin kau memasak makanan-makanan kesukaanku.”
“Tapi, jam berapa mobil Muammar datang menjemput?”
“Tunggu sebentar lagi, mungkin setengah jam lagi sudah ada.”

Kasman tak begitu yakin dengan ucapannya. Semua jendela telah tertutup rapat, pintu belakang rumah pun digembok, hanya pintu depan yang belum terkunci. Pintu depan tetap tertutup, namun sesekali Sarina membukanya untuk melihat jalan yang selalu saja tampak sepi. 

Mereka berdua duduk di atas kursi. Sarina kembali mengutuki dirinya lantaran tak mendengar petuah pamannya sejak minggu lalu. Situasi semakin memburuk. Rumah Sumarno telah dibakar dan beberapa orang yang telah menerima cangkul dan mengurusi tanah pembagian itu pun ikut menjadi korban. 

Kasman meletakkan rokok yang tinggal setengah di asbak bundar berwarna coklat sembari memikirkan rencana istrinya untuk berpindah-pindah. Dia sebenarnya tak ingin pergi dari Bone. Masih ada urusan yang ingin dia selesaikan, masalah pembagian tanah, pengurusan alat pertanian, dan urusan pribadinya sendiri. Kasman belum tahu sampai kapan mereka akan bermukim di Soppeng. Jika mengikuti rencana istrinya, semua yang telah Kasman dapatkan kemungkinan akan sirna. Namun, tetap tinggal juga sangat berisiko. Kasman tahu dirinya turut menjadi incaran. Orang-orang percaya bahwa Kasman terlibat dengan urusan Sumarno. Latar belakang istrinya yang berasal dari Jawa menambah alasan bagi mereka untuk menangkap atau membunuh Kasman.

Sarina berdiri untuk mengintip dari jendela. Dia menyandarkan dahinya ke jendela sembari mengingat pesan pamannya. Sedari dulu, Sarina mengikuti keputusan pamannya. Di antara mereka sekeluarga, Sumarno menjadi satu-satunya orang yang selalu menyusun rencana dan sebagian besarnya berhasil membuat situasi lebih baik. Leluhurnyalah yang konon membantu tiap-tiap keputusan yang ingin dia tempuh. Keringat mengucur dari dahi Sarina, telapak tangannya juga basah. 

Sarina bertanya pada suaminya, “Sekarang sudah jam berapa?” 
Kasman tak memberi jawaban.Dia mematikan api rokoknya di asbak.   
  
19.07
Tidak sesuai prediksi Kasman, mobil yang ditunggu tak kunjung tiba.  
Dia kembali menyalakan sebatang rokok dan masih mencoba meyakinkan dirinya bila situasi akan lekas membaik. 

“Bagaimana jika kita batalkan saja rencana ini?”
“Heh, apa maksudmu? Kau tak memikirkan kondisi anak kita?” jawab Karina, menyentuh perutnya yang sudah membesar. "Apa kau tahu? Aku masih melihat mayat paman di kepalaku."

Kasman mengisap rokok lalu diam sejenak, memperhatikan asap yang dia keluarkan sedikit-sedikit. Dia menggelengkan kepalanya, lalu menatap wajah istrinya yang cemberut. 
“Jadi begini…” Kasman menepuk-nepuk kursi yang ada di sampingnya. “Kalau misal mobil itu tak datang beberapa menit lagi, kita lebih baik cari mobil dan waktu yang lain saja.” 
“Sebenarnya jam berapa mobil temanmu itu datang menjemput kita?”    
Kasman tak memberi respon, Sarina duduk di samping Kasman dan kembali bertanya, “Heh, kau dengar pertanyaanku 'kan? Jam berapa?”
“Mungkin sebentar lagi, sabar saja dulu!”
Sarina bangkit dan kembali berjalan menuju jendela, sementara Kasman duduk tertunduk sambil menghabiskan rokoknya lebih cepat dari biasanya. 
“Duduk saja dulu, kasian bayi yang ada di perutmu jika kau terus menerus cemas seperti itu.”
Bagaimanapun Kasman mencoba menenangkan istrinya, dia sadar itu tak berguna sama sekali. Sarina akan tetap melakukan apa yang dia inginkan, berdiri menatap keluar sambil merapatkan dahinya di jendela. Raut wajahnya memperlihatkan kecemasan, firasatnya berkecamuk sekusut kertas yang diremuk-remuk penuh amarah. 
Masih terbayang di kepala Sarina, pesan dari paman Sumarno untuk segera pergi dari rumahnya. Penyesalan itu membuat dadanya terasa sakit, kepalanya pening, dan keringat tak berhenti membasahi telapak tangannya. 
Memegang perutnya, Sarina berbalik memandang suaminya. “Aduh, perutku rasanya sakit!”
Tiba-tiba, di belakang kursi Kasman, tampak pamannya berdiri mengenakan baju hitam berlumur darah. Wajahnya juga penuh darah, luka menganga di lengan kanannya, bahkan aroma tubuh pamannya yang berlumur darah itu tercium begitu tajam, hingga membuat Kasman terbatuk tanpa tahu sebabnya. 
Melihat itu, Sarina seketika jatuh tak sadarkan diri.    

19.45
Setelah Sarina jatuh pingsan, Kasman memindahkan istrinya ke kamar. Mobil teman yang dia tunggu sedari tadi tak kunjung datang. Dia tak tahu harus bagaimana untuk berkabar atau mengetahui kepastiannya. Di samping istrinya yang berbaring, dia duduk menatap langit-langit kamar. 

Kasman juga terus memikirkan bayi yang ada di perut istrinya. Setelah tujuh tahun pernikahan, barulah mereka mendapat karunia Tuhan. Tak dapat dibayangkan betapa bahagianya Kasman saat mendengar kabar kehamilan istrinya beberapa waktu lalu. Setelah kematian paman Sumarno, Kasman mendapat kesempatan untuk mengelola usahanya bersama beberapa pegawai yang berasal dari Jawa. 

Pabrik gula Arasoe telah membantu perekonomian keluarga Kasman. Meski sebagian besar pegawai adalah orang  Jawa, berkat permintaan istrinya, Kasman dan beberapa keluarganya diperbolehkan untuk ambil bagian. Kasman sendiri tak habis pikir dengan kejadian yang menimpa Paman Sumarno. Seperti halnya dalam hidup Sarina, peran paman Sumarno juga begitu besar  dalam hidup Kasman.. Mulai dari mengajaknya bekerja di pabrik gula, memperkenalkannya pada Sarina, mengajaknya mengurusi organisasi, bertani, dan belajar banyak hal yang sebelumnya tak terbayangkan oleh Kasman. 

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Pertanyaan itu terbesit dalam benak Kasman. Dia mengusap rambut istrinya dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.  

20.08
“Kasman…” seseorang datang menggedor pintu rumah Kasman. 
Kasman menepuk kecil pipi kanan istrinya sambil memanggilnya dengan suara yang agak keras. Sarina tak memberi reaksi apa-apa. Kasman memutuskan untuk melihat temannya lebih dulu. 

Segera Kasman turun dari tempat tidur dan keluar menuju pintu, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Suara yang memanggilnya tampak asing. Lama kelamaannya, Kasman sadar bahwa di luar sana bukan hanya ada seorang saja. Gedoran pintu terdengar semakin riuh diikuti dengan semakin ramainya langkah orang yang menaiki tangga.

Sudah beberapa hari ini orang-orang diserang, rumah-rumah dibakar tanpa ampun. Di luar rumah Kasman, orang-orang telah berkumpul dan bersiap menghancurkan semua yang ada. Mereka berteriak lantang, menyerukan tanda kebenaran mereka masing-masing. Kasman tahu ini akan terjadi, tapi dia tak siap untuk menghadapinya. Rasa was-was menyelimuti perasaannya, belum lagi istrinya tak sadarkan diri. 

Digendongnya Sarina dan melangkahlah ia ke dapur. Semakin banyak yang menggedor pintu rumah Kasman. Suara yang semakin ribut membuat Kasman semakin bergegas. Lewat pintu belakang rumahnya, Kasman mencoba melarikan diri dengan berlari kecil sambil menggendong istrinya. Baru beberapa langkah, seseorang melihatnya dan berteriak. Kerumunan orang itu langsung mengejar Kasman. 

20:36
Sarina membuka mata dan melihat suasana hening dan gelap. Suasana begitu dingin hingga dia sedikit menggigil. Semula Dia tak melihat apa-apa, hanya mendengar suara-suara yang mengganggu. Setelah berdiri, samar-samar mata Sarina menangkap bayangan seseorang. Lama kelamaan, seseorang itu bertambah menjadi sebuah kelompok dengan jumlah yang cukup banyak. Segera saja Sarina sadar bahwa dia sedang berdiri di ruang tengah kamarnya. 

“Aku mendengar suara orang-orang yang berteriak-teriak memanggil nama suamiku, Kasman. Awalnya, aku mengira tengah mendengar gemuruh angin ribut. Tapi semakin suara itu mendekat, aku mulai mendengar teriakan orang-orang. Dari jendela rumah, Aku melihat orang-orang itu bergerombol, membawa parang sepanjang lengan orang dewasa, badik, dan bambung runcing.

Aku terdiam mundur beberapa langkah dari jendela. Suamiku ada di luar sana, tertangkap. Pukulan yang keras mendarat di pipi Kasman, tendangan dengan sepatu laras mengenai dada dan perutnya. Aku segera menarik pintu, tapi terkunci. Kupanggil suamiku, namun entah mengapa suaraku tak keluar sama sekali. Aku melihatnya dari jendela, kupecahkan jendela hingga tanganku dipenuhi darah. Saat kaca jendela pecah seutuhnya, orang-orang melihatku dan datang ke arahku. Aku ingin lari, namun suasana kembali menjadi gelap seutuhnya.” 

***
Di dalam penjara, orang-orang itu masuk menerobos penjagaan aparat dan terus menyerang para tahanan. Mereka menendang membabi buta, memukul siapa saja yang ada di hadapannya. 

Sarina bersama beberapa orang lainnya dibawa ke suatu tempat yang jauh. Saat dini hari, dia baru saja tersadar seutuhnya. Seorang tentara dengan seragam lengkap berbicara di depan mereka,

“Sekarang, kita berada di Moncongloe. Kalian resmi ditahan!”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »